Jurusan Manajemen Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), menyelenggarakan kegiatan Telaah Kurikulum Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP) dan Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan (SEP). Kegiatan ini bertujuan memperkuat relevansi kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kebutuhan dunia kerja, serta tantangan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan.
Kegiatan menghadirkan Prof. Dr. Ir. Siti Aslamyah, MP sebagai narasumber. Selama dua hari pelaksanaan, rangkaian kegiatan meliputi telaah kurikulum bersama dosen, Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan pemangku kepentingan dan alumni, serta kuliah umum yang diikuti oleh dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa dari kedua program studi.
Telaah Kurikulum: Ruang Evaluasi Akademik
Pada hari pertama, Sabtu (24/10), kegiatan difokuskan pada telaah kurikulum yang diikuti seluruh dosen Program Studi MSP dan SEP. Forum ini menjadi ruang akademik untuk mengevaluasi kesesuaian struktur kurikulum, capaian pembelajaran lulusan, serta substansi pembelajaran dengan dinamika sektor kelautan dan perikanan. Melalui diskusi bersama narasumber, kedua program studi berupaya mengidentifikasi aspek kurikulum yang perlu diperkuat agar lulusan memiliki kompetensi yang adaptif, profesional, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta dunia kerja.
Telaah kurikulum juga menjadi bagian penting dari upaya peningkatan mutu pendidikan tinggi melalui evaluasi dan penyempurnaan proses pembelajaran secara berkelanjutan. Bagi Program Studi MSP, penguatan kurikulum diarahkan untuk mendukung kompetensi dalam pengelolaan sumber daya dan lingkungan perairan secara berkelanjutan. Sementara itu, Program Studi SEP berperan dalam mempersiapkan lulusan yang mampu memahami dimensi sosial, ekonomi, kelembagaan, dan pengembangan usaha dalam sektor perikanan.
FGD: Kolaborasi Multipihak Penyempurna Kurikulum
Pada hari kedua, Minggu (25/10), kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) pada sesi pagi yang melibatkan dosen, alumni, serta pemangku kepentingan dari berbagai sektor. Pelibatan para pemangku kepentingan ini menjadi bagian penting dalam proses evaluasi dan penyempurnaan kurikulum agar tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja, perkembangan sektor kelautan dan perikanan, serta karakteristik pembangunan wilayah kepulauan.
Peserta FGD
Unsur Pemerintah:- Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau
- Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lingga
- Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bintan & Provinsi Kepulauan Riau
- BMKG Tanjungpinang
- PSDKP Batam, BPSPL Padang, BPDAS Sei Jang, PDAM Tirta Kepri
- CV Citra Sari, Pengudang Bintan Mangrove, NIKOI
- PT Bintan Intan Gemilang, Banyan Tree, Treasure Bay, Buana Mega Wisata
- Yayasan Ekologi Kepulauan Riau
- Yayasan Ekowisata Tunas Harapan Sebong
- Kelompok Dompak Mangrove Lestari, Rimba Bakau Abadi, Mangrove Bintan Lestari
- LSM Air, perwakilan kelurahan, dan masyarakat desa
Keberagaman unsur yang dilibatkan dalam FGD mencerminkan pentingnya pendekatan multipihak dalam pengembangan kurikulum pendidikan tinggi bidang kelautan dan perikanan. Masukan dari instansi pemerintah memberikan perspektif mengenai kebutuhan kompetensi dalam pengelolaan sumber daya perairan, pengawasan, konservasi, dan perlindungan lingkungan. Perspektif dunia usaha memberikan gambaran mengenai kebutuhan tenaga kerja, kompetensi profesional, serta peluang pengembangan sektor pariwisata bahari dan usaha berbasis sumber daya pesisir.
Keterlibatan organisasi masyarakat dan kelompok pemerhati lingkungan turut memperkaya diskusi melalui pengalaman langsung dalam kegiatan konservasi, rehabilitasi mangrove, dan pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat. Partisipasi alumni diharapkan dapat memberikan umpan balik mengenai kesesuaian kompetensi yang diperoleh selama perkuliahan dengan kebutuhan dan tantangan di dunia kerja.
Kuliah Umum: Memperluas Wawasan Akademik
Rangkaian kegiatan dilanjutkan pada sesi siang melalui kuliah umum dengan narasumber yang sama, Prof. Dr. Ir. Siti Aslamyah, MP. Kuliah umum ini dihadiri oleh dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa dari Program Studi MSP dan SEP. Kegiatan tersebut menjadi ruang pengayaan wawasan akademik sekaligus sarana untuk memperluas perspektif sivitas akademika mengenai arah pengembangan ilmu dan praktik pengelolaan sektor kelautan dan perikanan.
Penyelenggaraan kuliah umum juga memperkuat interaksi akademik antara narasumber dan peserta, sekaligus mendorong mahasiswa untuk memahami persoalan kelautan dan perikanan secara lebih komprehensif. Dengan demikian, proses pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga pada kemampuan menganalisis persoalan, memahami kebutuhan masyarakat, dan merumuskan pendekatan penyelesaian masalah yang relevan dengan karakteristik wilayah maritim.
Baju Kurung Melayu: Nilai Tamadun Melayu dalam Kegiatan Akademik
Tidak hanya berfokus pada penguatan akademik, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk meneguhkan nilai-nilai Tamadun Melayu. Hal ini tercermin melalui penggunaan baju kurung Melayu oleh seluruh peserta selama kegiatan berlangsung — sebuah bentuk penghargaan terhadap warisan budaya yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Kepulauan Riau.
Lebih dari sekadar busana, baju kurung Melayu merepresentasikan nilai kesantunan, adab, dan penghormatan terhadap tradisi yang diwariskan lintas generasi. Kehadirannya dalam kegiatan akademik mencerminkan upaya menghadirkan identitas budaya lokal di tengah dinamika pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan tinggi. Sebagai perguruan tinggi yang tumbuh di kawasan Melayu dan wilayah kepulauan, UMRAH memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan Tamadun Melayu melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Penerapan nilai Tamadun Melayu dalam kegiatan ini memperlihatkan bahwa modernisasi pendidikan tidak harus menjauhkan masyarakat akademik dari akar budayanya. Sebaliknya, pengembangan kurikulum dan peningkatan kualitas pendidikan dapat berjalan beriringan dengan pelestarian identitas lokal — semangat yang relevan dengan karakter Kepulauan Riau sebagai wilayah maritim yang memiliki kekayaan sumber daya alam sekaligus warisan sosial dan budaya yang kuat.
Mendukung Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Pelaksanaan telaah kurikulum, FGD, dan kuliah umum ini sejalan dengan upaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama:
Keterkaitan dengan SDGs
- SDG 4 — Pendidikan Berkualitas: melalui evaluasi kurikulum, peningkatan kapasitas akademik, dan pelibatan pemangku kepentingan.
- SDG 14 — Ekosistem Lautan: melalui penguatan kompetensi SDM dalam pengelolaan sumber daya perairan dan perikanan secara berkelanjutan.
- SDG 17 — Kemitraan untuk Mencapai Tujuan: melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, alumni, dan berbagai unsur kelautan-perikanan.







