Aksi Lokal, Dampak Global: Webinar Blue Carbon Dorong Restorasi Pesisir yang Kembali Memberi Manfaat bagi Masyarakat 

Tanjungpinang – Restorasi ekosistem pesisir tidak akan berjalan berkelanjutan tanpa keterlibatan masyarakat sebagai bagian dari proses pengelolaan. Lebih dari sekadar memulihkan mangrove dan ekosistem pesisir, upaya konservasi perlu memastikan bahwa manfaat ekologis dan ekonomi yang dihasilkan dapat kembali dirasakan oleh masyarakat.

Pesan tersebut menjadi salah satu sorotan utama dalam Webinar Series 3 Blue Carbon bertajuk “Aksi Lokal, Dampak Global: Restorasi Pesisir Berbasis Komunitas”, yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting, Senin (28/9/2026).

Pembukaan oleh Sekretaris Jurusan Manajemen Perikanan

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP), Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) ini dibuka oleh Sekretaris Jurusan Manajemen Perikanan, Dr. Wahyu Muzammil, S.Pi., M.Si.

Webinar menghadirkan Dr. Febrianti Lestari, S.Si., M.Si., dosen Universitas Maritim Raja Ali Haji, dan Cahyadi Adhe Kurniawan, S.Kel., M.Si., Community Development Expert YAPERSI, sebagai narasumber. Diskusi dipandu oleh Dr. Diana Azizah selaku moderator.

81 Peserta dari Berbagai Kalangan

Sebanyak 81 peserta mengikuti kegiatan secara daring. Peserta berasal dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, dosen, masyarakat, hingga praktisi. Keberagaman peserta menunjukkan bahwa isu blue carbon, restorasi pesisir, dan keterlibatan masyarakat memiliki ruang pembahasan yang luas, baik dalam konteks akademik maupun implementasi di lapangan.

Strategi Pengelolaan Karbon Biru Berbasis Masyarakat

Dalam pemaparannya, Dr. Febrianti Lestari membahas strategi pengelolaan karbon biru melalui restorasi ekosistem mangrove berbasis masyarakat pesisir. Mangrove tidak hanya memiliki fungsi dalam penyerapan dan penyimpanan karbon, tetapi juga berperan dalam menjaga habitat biota, mendukung produktivitas perikanan, melindungi kawasan pesisir, serta menopang kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya pesisir.

Sementara itu, Cahyadi Adhe Kurniawan mengangkat pendekatan community-based coastal restoration melalui pengalaman dan model YAPERSI. Dalam pendekatan tersebut, masyarakat tidak ditempatkan hanya sebagai penerima manfaat atau pelaksana kegiatan, tetapi sebagai aktor yang terlibat dalam proses restorasi, pengelolaan, pemantauan, hingga pengembangan manfaat ekonomi dari ekosistem yang dipulihkan.

“Keberhasilan restorasi tidak hanya diukur dari bertambahnya tutupan vegetasi, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat terlibat dan memperoleh manfaat dari ekosistem yang dipulihkan.”

Manfaat Nyata bagi Masyarakat Pesisir

Salah satu pesan penting yang mengemuka adalah bahwa konservasi perlu memberikan manfaat yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat. Ekosistem mangrove yang sehat dapat mendukung perikanan, silvofishery, pengembangan usaha berbasis kepiting, serta berbagai kegiatan ekonomi masyarakat lainnya. Dengan demikian, masyarakat memiliki ruang untuk memperoleh manfaat dari ekosistem sekaligus berperan dalam menjaga keberlanjutannya.

Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat sebagai bagian dari siklus keberlanjutan restorasi. Ketika masyarakat memperoleh manfaat dari ekosistem yang terjaga, manfaat tersebut dapat menjadi bagian dari upaya mempertahankan praktik pengelolaan yang berkelanjutan.

Tahapan Restorasi Berbasis Komunitas

Dalam materi yang disampaikan, model restorasi berbasis komunitas mencakup tahapan:

  1. Assess – Kajian awal kondisi ekosistem dan masyarakat.
  2. Engage – Pelibatan aktif masyarakat sejak dini.
  3. Restore – Pelaksanaan restorasi ekosistem.
  4. Monitor – Pemantauan berkala kondisi ekosistem.
  5. Develop Livelihood – Pengembangan mata pencaharian berbasis ekosistem.
  6. Build Local Institution – Penguatan kelembagaan lokal.
  7. Scale – Perluasan dan replikasi model ke kawasan lain.

Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa restorasi bukan sekadar kegiatan penanaman mangrove, tetapi merupakan proses jangka panjang yang menghubungkan pemulihan ekosistem, pemberdayaan masyarakat, pengembangan mata pencaharian, penguatan kelembagaan lokal, serta kemitraan multipihak.

Antusiasme Peserta dalam Sesi Diskusi

Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi. Tiga peserta dari latar belakang yang berbeda turut menyampaikan pertanyaan dan tanggapan kepada narasumber, yaitu:

  • Zaskia Komoyap – Mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan angkatan 2024.
  • Gerry – Perwakilan kelompok masyarakat.
  • Dyah Muji Rahayu, S.Pi., M.Si. – Dosen dari Universitas Jambi (UNJA).

Keterlibatan ketiga penanya tersebut memperlihatkan adanya perspektif yang beragam dalam membahas restorasi pesisir, mulai dari sudut pandang mahasiswa sebagai generasi akademik, masyarakat sebagai pihak yang berhadapan langsung dengan ekosistem pesisir, hingga akademisi sebagai bagian dari pengembangan pengetahuan dan praktik pengelolaan sumber daya pesisir.

Ruang Dialog Multipihak

Melalui Webinar Series 3 ini, Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan UMRAH terus membuka ruang dialog antara akademisi, mahasiswa, praktisi, dan masyarakat untuk membahas pengelolaan blue carbon secara lebih komprehensif.

Penutup

Pada akhirnya, webinar ini menegaskan bahwa restorasi pesisir bukan hanya tentang mengembalikan ekosistem yang rusak, tetapi juga memastikan masyarakat memiliki peran dalam prosesnya dan memperoleh manfaat dari ekosistem yang berhasil dipulihkan. Dengan demikian, aksi lokal melalui keterlibatan masyarakat dapat menjadi bagian dari upaya yang lebih luas dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir dan mendukung kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Scroll to Top