Dosen MSP Hadir sebagai Invited Speaker di Seminar Nasional SIGER PIK 2026, Bahas Kelestarian Siput Gonggong di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau 

TANJUNGPINANG — Kiprah akademisi lokal di kancah nasional kembali ditunjukkan oleh dosen Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP), Susiana, S.Pi., M.Si. Ia dipercaya menjadi pembicara tamu (invited speaker) dalam ajang bergengsi Seminar Ilmiah Giat Riset Perikanan dan Kelautan (SIGER PIK) 2026 yang diselenggarakan di Fakultas Pertanian, Universitas Lampung pada 8–9 Juli 2026.

Dalam forum ilmiah tersebut, Susiana membawa isu krusial terkait kelestarian fauna khas Kepulauan Riau melalui risetnya yang bertajuk “Kajian Bio-Ekologi dan Potensi Lestari Siput Gonggong (Laevistrombus turturella): Upaya Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan”.


Ancaman Kelestarian di Balik Populer Komoditas Gonggong

Siput gonggong (Laevistrombus turturella) selama ini tak hanya dikenal sebagai ikon kuliner lokal, tetapi juga komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi bagi masyarakat Kepulauan Riau. Namun, popularitas ini membawa konsekuensi serius. Tingginya permintaan pasar dan pola pemanfaatan yang tidak terkontrol memicu kekhawatiran nyata akan penurunan populasi biota laut ini di habitat alaminya.

Pendekatan Bio-Ekologi untuk Pengelolaan Berkelanjutan

Menanggapi ancaman tersebut, Susiana menegaskan pentingnya pendekatan bio-ekologi agar pemanfaatan ekonomi tidak mengorbankan ekosistem. Dalam pemaparannya, terdapat tiga strategi utama yang ditawarkan untuk menjaga keberlanjutan siput gonggong:

  • 1. Pemahaman Karakteristik Bio-Ekologi
    Mengenali pola pertumbuhan, siklus reproduksi, serta peran penting ekosistem padang lamun (seagrass) sebagai tempat mencari makan dan memijah bagi siput gonggong.
  • 2. Pengendalian Tingkat Pemanfaatan
    Melakukan analisis estimasi stok agar kuota penangkapan oleh nelayan lokal tidak melebihi batas Maximum Sustainable Yield (MSY) atau Potensi Tangkap Lestari.
  • 3. Regulasi & Perlindungan Habitat
    Mendorong aturan berbasis wilayah, seperti penerapan musim tangkap (close season), pembatasan ukuran minimal yang boleh ditangkap, hingga perlindungan ketat zona kritis padang lamun.

“Pengelolaan perikanan gonggong tidak bisa hanya melihat aspek ekonominya saja. Tanpa pemahaman bio-ekologi yang kuat dan upaya konservasi habitatnya, komoditas khas ini berisiko mengalami penurunan stok secara drastis (overfishing).”

Susiana, S.Pi., M.Si.

Rekomendasi Berbasis Riset untuk Kebijakan Pemerintah

Kehadiran dosen MSP dalam forum nasional ini menjadi bukti nyata kontribusi perguruan tinggi dalam menghasilkan evidence-based policy (kebijakan berbasis data dan riset) bagi pemerintah daerah.

Melalui riset ini, diharapkan hasil kajian bio-ekologi yang dipaparkan dapat digunakan sebagai rujukan ilmiah resmi dalam penyusunan Rencana Pengelolaan Perikanan (RPP) spesifik-lokal. Langkah ini penting agar kelestarian siput gonggong tetap terjaga, sekaligus menjamin kesejahteraan ekonomi masyarakat pesisir secara jangka panjang.

Scroll to Top