Mahasiswa FIKP UMRAH Ikuti Summer Course Internasional, Perkuat Literasi Maritim dan Kepedulian Terhadap Isu Sampah Laut

Bogor — Sampah laut (marine litter) menjadi salah satu tantangan serius dalam menjaga kesehatan ekosistem laut dan keberlanjutan sumber daya pesisir. Keberadaannya tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga mengancam keanekaragaman hayati yang hidup di dalamnya.

Sebagai upaya meningkatkan kesadaran dan kapasitas generasi muda terhadap isu tersebut, Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University melalui Center for Coastal and Marine Resources Studies (CCMRS) menyelenggarakan Regional Summer Course on Marine Litter Management, Policy, and Integrated Coastal Governance in the East Asian Seas Region pada 18–24 Mei 2026 di Bogor, Jawa Barat.

Program ini diikuti oleh 36 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, termasuk 23 peserta mancanegara. Selama sepekan, peserta memperdalam pemahaman mengenai permasalahan sampah laut, kebijakan pengelolaannya, serta berbagai praktik terbaik (best practices) dalam penanganan marine litter yang disampaikan oleh para pakar di bidangnya.

Dalam kegiatan tersebut, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) turut berpartisipasi melalui tiga mahasiswa, yakni Roseline dan Ondo Hopman Sumanjaya Manalu dari Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, serta Muhammad Dwiki Pernanda Muslim dari Program Studi Ilmu Kelautan. Ketiganya mengikuti rangkaian kegiatan bersama peserta dari berbagai daerah dan negara, sekaligus membawa semangat untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di Kepulauan Riau.

Kepala PKSPL IPB University, Prof. Dr. Yonvitner, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian penting dalam penguatan literasi maritim generasi muda.

“Summer course ini menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi maritim, sekaligus meningkatkan pengetahuan dan pengalaman mahasiswa dalam mengelola isu kelautan, khususnya sampah laut,” tuturnya.

Tidak hanya melalui sesi perkuliahan dan diskusi di kelas, peserta juga melakukan observasi lapang di Kepulauan Seribu, meliputi Pulau Pramuka, Pulau Panggang, dan Pulau Karya. Dalam kegiatan tersebut, peserta melakukan identifikasi sampah laut, mengunjungi fasilitas pengelolaan sampah, mengamati tingkat kesadaran masyarakat, serta mempelajari metode identifikasi mikroplastik di wilayah pesisir.

Interaksi dengan masyarakat lokal serta peserta dari berbagai negara memberikan perspektif baru terkait tantangan dan solusi pengelolaan sampah laut. Berbagai gagasan inovatif pun muncul, mulai dari pengurangan plastik sekali pakai hingga penguatan peran masyarakat dalam menjaga kebersihan pesisir.

Bagi peserta, kegiatan ini tidak hanya memperluas wawasan akademik, tetapi juga membuka peluang jejaring internasional dan kolaborasi lintas disiplin.

“Melalui kegiatan ini, saya menyadari bahwa permasalahan sampah laut memerlukan kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara. Pengalaman ini menjadi bekal penting untuk diimplementasikan, khususnya di Kepulauan Riau,” ujar Roseline, salah satu peserta dari UMRAH.

Sebagai tindak lanjut, seluruh peserta membentuk komunitas PNLC Youth Forum sebagai wadah untuk berbagi informasi dan mengembangkan kolaborasi berkelanjutan terkait isu lingkungan, khususnya pengelolaan sampah laut.

Melalui penyelenggaraan program ini, diharapkan lahir berbagai gagasan dan aksi nyata yang dapat diterapkan di masyarakat. Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa kelestarian laut merupakan tanggung jawab bersama, dengan generasi muda sebagai agen perubahan di masa depan.

Scroll to Top